Opini  

PREMAN ITU!… PENGUASA

Preman Itu!… Penguasa

By: Pimred

Tema “preman” pada satu sisi mengingatkan kita pada beberapa tahun silam, tepatnya ketika album karya Ahmad Zulfikar Fawzi atau yang lebih dikenal dengan nama Ikang Fawzi mulai dikenal luas. Salah satu kisah yang melatarbelakangi karyanya berawal ketika Ikang, saat masih duduk di bangku SMA, berkenalan dengan seorang preman di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Dalam penjelasannya, sosok tersebut memilih menjadi preman untuk menghidupi anak dan istrinya. Dari sini kita melihat bahwa istilah “preman” pada dasarnya memiliki perjalanan makna yang panjang dan tidak selalu identik dengan kejahatan.

Ingatan tentang istilah tersebut kembali muncul beberapa bulan terakhir. Berbagai pemberitaan media massa dan media sosial ramai membicarakan fenomena premanisme. Istilah “preman” bahkan kembali menjadi salah satu kata yang populer setelah sejumlah peristiwa yang dikaitkan dengan premanisme menjadi viral di media sosial.

Menariknya, istilah tersebut juga sempat dilontarkan oleh pejabat tertinggi di Kota Surabaya, yakni wali kota, dalam konteks sengketa atau perselisihan yang terjadi di sebuah ruko di Jalan Krukah, Ngagelrejo, Wonokromo, Surabaya.

Lantas, sebenarnya apa makna “preman”? Dari mana istilah itu berasal dan bagaimana perkembangannya hingga memiliki konotasi negatif seperti sekarang?

Dari Orang Bebas Menjadi Stigma

Secara etimologis, istilah “preman” kerap dikaitkan dengan bahasa Belanda vrijman, yang berarti orang bebas atau seseorang yang tidak terikat kontrak kerja. Dalam konteks kolonial, istilah tersebut digunakan untuk menyebut orang-orang yang berada di luar ikatan kerja formal tertentu.

Dalam perkembangannya, pelafalan masyarakat lokal kemudian melahirkan bentuk kata “preman” sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Sejumlah kajian sejarah menunjukkan bahwa istilah tersebut telah dikenal sejak masa kolonial. Sejarawan Universitas Indonesia, J.J. Rizal, misalnya, pernah menjelaskan mengenai keberadaan istilah preman sejak masa VOC di Batavia.

Pada masa itu, preman merujuk kepada orang-orang yang tidak mengabdi kepada organisasi atau struktur VOC. Dengan demikian, makna awal istilah tersebut tidak secara otomatis berarti penjahat.

Di kawasan onderneming, terutama perkebunan di era kolonial Belanda, kelompok-kelompok pekerja bahkan pernah memainkan peranan tertentu dalam menghadapi kepentingan pengusaha yang bersekutu dengan kekuasaan.

Ada pula pemaknaan populer lain yang berkembang di tengah masyarakat Jawa, yaitu istilah “preman” yang dikaitkan dengan ungkapan prei mangan, yang secara sederhana dimaknai sebagai makan secara cuma-cuma. Namun, pemaknaan ini lebih tepat dipandang sebagai cerita atau tafsir populer yang berkembang di masyarakat dan bukan satu-satunya asal-usul istilah tersebut.

Dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia, sejumlah kelompok masyarakat yang kemudian disebut preman juga turut mengambil bagian dalam perjuangan dan menjaga keamanan lingkungan di wilayahnya.

Ketika Makna Mulai Bergeser

Pasca-kemerdekaan, istilah preman perlahan mengalami perubahan makna.

Pada periode awal kemerdekaan hingga sekitar dekade 1960-an, istilah tersebut belum sepenuhnya memiliki stigma negatif seperti sekarang. “Preman” lebih banyak digunakan sebagai penanda seseorang yang hidup di luar struktur pekerjaan formal maupun struktur negara.

Perubahan besar terjadi ketika Indonesia memasuki masa Orde Baru.

Kelompok masyarakat marginal, pengangguran, buruh harian, serta mereka yang hidup di luar sistem kerja formal secara perlahan mulai dilekatkan dengan istilah preman.

Lebih jauh, kata tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam pemalakan, kekerasan, maupun berbagai tindakan yang berada di luar hukum.

Pada saat yang sama, muncul fenomena yang lebih kompleks. Kelompok-kelompok yang disebut preman justru dalam sejumlah konteks dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik, keamanan, maupun pengamanan proyek.

Di sinilah muncul paradoks.

Preman dianggap sebagai kelompok yang berada di luar hukum, tetapi dalam situasi tertentu justru dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.

Preman menjadi tidak resmi, tetapi bisa digunakan secara resmi oleh kepentingan tertentu.

Petrus dan Ketakutan terhadap Label “Preman”

Perubahan citra preman semakin kuat ketika pemerintah Orde Baru menjalankan Operasi Penembakan Misterius atau yang dikenal sebagai Petrus pada awal 1980-an.

Baca Juga :  Teatrikal Elite Politik : Dari Gimmick Hingga Playing Victim Politisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *