Opini  

Romantika Muktamar NU ke 35

Oplus_131072

Kisah dari jombang

Oleh: Isfandiari MD

Selaksa kisah bertabur di momen Muktamar NU ke-35 hari pertama sampai akhir (27-31/8). Zona pesantren Bahrul Ulum yang bercampur dengan warga kampung hadirkan romantika tak terlupa. Traffick superpadat, orang jualan dan diskusi serius-santai terserak di sudut-sudut.

Belum lagi lantunan dzikir peziarah makam muasis NU, KH. Wahab Chasbullah, KH, KH Abdul Fattah Hasyim, Kh. Ustman atau KH. Abdussalam. ‘Energi’ pun nostalgia-pun terasa. Foto bersejarah terpajang, lukisan obat kerinduan pada pendahulunya kyai, kitab yang dibuka, stan penjual buku sampai seni kaligrafi semangat dalam giat.

Misalnya yang di Al Wahabiyyah 1 dan Al Lathifiyyah 2 Bahrul Ulum seolah sampaikan pesan agar syi’ar efektif disampaikan melalui estetika-seni.

Aktivitas nahdyidin dinamis. Pada tanggal 29 Agustus, lokasi Al Muhajirin 3, Bahrul Ulum digelar Mubes Pegiat Turots. Forum penting menjaga turots materi/madi (manuskrip-naskah kuno, kitab cetak) atau yang non materi (ghoiri madi).

Pertemuan meramu ekosistem pecinta warisan agar tersistem dalam perawatan dan keteladanan. Di tempat lain, getaran Muktamar Jombang menular dalam giat di Denanyar digagas Ihya Turots Wali Songo. Ada pameran dan Ngaji Manuskrip, 26 sampai 30 Agustus.

Baca Juga :  Fenomena Bersatunya Jokowi dan Prabowo

“Intinya, turots bukan benda mati, hidup saat dibaca, diajarkan, dikritisi. Meminjam paparan Martin van Bruinessen -Kitab Kunijg Pesantren dan Tarekat (Mizan 1995), kitab pesantren dan tradisi keilmuan Islam Indonesia itu erat hubungannya,” komentar ajengan Fahmi Arif El Muniry, khodim pesantren Laku Luhur Al Mahabbah, Demak.

Hidayatul Qur’an Peterongan paralel mambuat kegiatan Daurah Tahqiq Kitab Muassis NU (28-29/8). Santri edit kitab kuno memoles ulang huruf agar lebih estetis wujud rasa hormat santri pada ulama.

Wartawan bergerilya ke sana-sini mencari sumber nara, merekam setiap opini seputar Muktamar. Sebelum terjadi pemilihan, siapa tokoh yang akan menjadi kodai NU Syuriah-Tanfidziah menjadi pertanyaan dominan.

“Semua sudah dicatat Allah. Jika Dia menghendaki NU lebih baik akan diturunkan orang-orang baik, begitupun sebaliknya. Jadi kita tunggu saja.”

Jawaban ini didapat Duta.co saat iseng korek pendapat dengan Ajengan Toto atau KH. Thonthowi Jauhari, tokoh Kyai zikir Ekologis asal Garut.

Baca Juga :  Gen Z dan Tren Politik Masa Kini

Di sudut-sudut lain bertaburan diskusi dalam bentuk media wawancara, diskusi antartokoh sampai hang out santai rombongan lilahi ta’ala (romlah) di warung-warung kopi atau tempat ziarah.

Ada juga momen bedah buku masih seputar Pesantren Tambakberas (28/8), digagas IPNU, IPPNU dan Komisioner (KND-Komisi Nasional Disabilitas). Buku Fikih Disabilitas Mental Psikososial yang disampaikan nara sumber Dr. KH Hilmy Muhammad, MA Khatib Syuriah PBNU, Nyai Hj. Izza Farhatin Ilmi, wakili tim penulis dan Nyai Fatimah Asri Mutmainah, Komisioner (KND-Komisi Nasional Disabilitas).

Digelar untuk sebuah harapan agar NU secara organisatoris merangkul teman teman penyandang disabilitas mental psikososial.

“Bedah buku ini penting demi pemahaman penyandang disabilitas mental sosial (PDMP) difasilitasi dalam berbagai kegiatannya. Stigma penyandang disabilitas mental psikososial sangat kuat,” jelas Kyai Hilmy.

“Kami mendorong agar isu disabilitas mental psikososial menjadi salah satu rekomendasi di Muktamar NU ke-35,” harap Nyai Fatimah Asri Mutmainah, Komisioner (KND-Komisi Nasional Disabilitas) didampingi Abi S. Nugroho dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam-NU).

Baca Juga :  SYI’AR DALAM SELAKSA JALAN

“Alhamdulillah dukungan nahdiyin besar seperti dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam-NU), Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) serta Pusat Rehabilitasi YAKKUM,” jelas Abi.

Walau ada ‘insiden’ demo di luar sidang pleno tak puas Perkum Nomor 3 2025 dan masa ‘iddah’-jeda politik yang dinilai diskriminatif (30/8). Mereka yang ‘sentimentil’ merasakan jika kejadian ini sebagai hal yang serius sejak Muktamar Cipasung 1994.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *