Dalam status Jandanya, Tan Malaka sempat menemui Syarifah dan berniat mempersuntingnya. Mereka memang tidak berjodoh. Syarifah menolaknya, cinta bertepuk sebelah tangan, kisah ini sesuai dengan puisi Minangkabau: …bia denai lupuah manggenggam bayang, cinto bartapuak sabalah tangan..uda sadar, kakak ndak cinto..Bia rindu ko denai bao mati….
Dikisahkan selanjutnya, wanita ini menjanda sebagai single parent sampai akhir hayatnya. Begitupun Tan Malaka, tetap melajang sampai ia ditembak mati pasukan Yon Sikatan Divisi Brawijaya membunuhnya (Selopanggung-Kediri 21 Februari 1949).
Kisah mereka sangat dramatis dalam perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia. Tan Malaka tokoh yang sangat menonjol dalam gagasan pikirannya sosialisnya. Di sisi lain, Syarifah juga memiliki sumbangsih besar dalam perjalanan bangsa terutama pengabdiannya dalam dunia pendidikan. Beliau sosok wanita menonjol sepertihalnya Kartini, Dewi Sartika, Rahmah El Yunusiyah ataupun bunda Rohana Kudus.
Saat muda, memimpin sekolah De Meisjes Vervolg School (Sekolah Lanjutan untuk Anak Perempuan) sebagai kepala sekolah di Bukit Tinggi. Pindah ke Jakarta 1937, ia menyekolahkan anak-anaknya, di Koning Willem III School Batavia. Wanita super-aktif, di Jakarta memimpin Sekolah Kemajuan Istri di Meester Cornelis. Masuk era Jepang, perjuangannya memintarkan kaum wanita diteruskan lewat organiasai wanita binaan Jepang bernama Fujinkai. Masuk era republik, ia dan teman-temannya mendirikan Yayasan Panti Wanita PERWARI (11 Juni 1955).












