Opini  

SYI’AR DALAM SELAKSA JALAN

Makin afdal ia mengutip hadis Nabi, ”Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.”-(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Katanya, “Saya juga terkesan dengan hadis Rasulullah dari Bukhari-Muslim yang isinya: Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencitai dirinya sendiri.”

Bisa ditebak ini gak mudah. Eksekusinya di lapangan menghadapi banyak kendala. Tabiat lain, gaya hidup yang penuh kenikmatan duniawi dan batas dunia santri dan mereka.

Lahan khusus para bikers yang ditekuni Kang Boim, ada sekat tak terlihat. Ia sama sekali tak menghakimi jika dunia itu serbagelap dan harus ‘hijrah’ meninggalkan itu semua.

Baca Juga :  Siapa yang Radikal?

Baginya, motor bisa jadi sarana silaturahmi dan lelaku riding, turing jauh samahalnya dengan polah Nabi dan rasul terdahulu. Penjabaran dalam tasawuf adalah mahluk spiritual cerminan rahmat Allah.

“Dalam praktiknya memang menantang! Orang yang bertato shalat tidak sah karena air tidak masuk. Bergaulah dengan orang sholeh dan seterusnya. Ini khan murni pandangan fikih. Nah, kita harus juga mencari jalan lain dari sisi tasawuf yang lebih menitiberatkan pada kasih sayang dan rahmat Allah. Dari sanalah saya berpijak agar hati mereka tersentuh dalam mencari rahmat-Nya,” katanya serius.

Ini merujuk pada pepatah populer di kalangan pesantren: Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah-‘ilman nafi’an atau ilmu yang bermanfaat.

Baca Juga :  Pengembangan Media Sosial Instagram Sebagai Sarana Branding Desa Dilem

Ditarik ke belakang, inspirasi tentu datang dari tokoh terdahulu. Muadz Bin Jabal, sahabat Nabi Muhammad dari suku Khazraj: “Hendaklah kalian mencari ilmu. Mempelajarinya adalah kebaikan, mencarinya ibadah, mendalaminya adalah tasbih, membahas detail adalah jihad, mencari dengan intens adalah upaya mendekatkan diri pada Allah dan mengajarkannya adalah sedekat.”

Dalam khazanah keilmuan Islam, ada baiknya menyimak pandangan Hadratussyaikh Muhammad Hasyim As’ari yang berikan wejangan bahwa ilmu semata-mata demi tujuan pengabdian.

Santri beliau diberikan pedoman moral. Beberapa point penting yakni kebersihan hati, niat yang tulus, getol menimba ilmu sebanyak-banyaknya, kesediaan menerima keadaan apa adanya, menata dan membagi waktu sebaik-baiknya, sikap asketis dan penuh kehati-hatian, termasuk instruksi untuk meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat.

Baca Juga :  Refleksi Sumpah Pemuda Ke Ke 93 : Pemuda Libatkan Diri Dalam Urusan Negara dan Kebangsaan

Di tahap awal ini, santri wajib memilih pergaulan yang tepat demi kualitas pembelajaran. Cari teman yang religius, taqwa, bermoral, suka kebajikan dan berperangai baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *