Opini  

Romantika Muktamar NU ke 35

Oplus_131072

Belum lagi oknum yang memasrahkan dirinya mencari hidup di NU, bukannya menghidupi NU.

Dari semua itu, peninggalan Kyai Yahya sangat diapresiasi. Roadmap 2050 menjadi buah pikir brilian agar NU tak terlampau asyik membaca sejarah gemilang masa lampau tapi bayangan bagaimana NU kedepan dalam banyak tantangan lewat fikih peradaban, Islam kemanusiaan berikut dunia digital yang agresif dengan Digdaya NU-nya.

KH. Abdul Hakim Mahfudz, akrab disama Gus Kikin kini ada di depan depan (2026-2031). Ikhtiar awal tentunya menata internal organisasi termasuk atasi konflik. Pastinya, nahdiyin nyaman di rumahnya NU yang beragam dalam karakter tiap insannya.

Di luar tembok pesantren, NU masih terasa asing bagi sebagian anak muda. Apa itu paham Ahlus sunah wal jama’ah, soal Islam Nusantara, dakwah kontruktif dan memandang agama adalah solusi bukannya masalah.

Bagaimana pandangan mereka terhadap NU? Apakah gambaran mereka masih bias, santri NU adalah golongan sarung, sandalan dan roko’an?

Orang awam masih merasakan, Kyai kyai besar NU memiliki keagungan spiritual, memiliki kedalaman ilmu dibandingkan mereka yang selalu nongol di platform media, menyajikan lelaku narsistik, narasi receh tak berkualitas kadang sinis cenderung provokatif.

Menjadi tugas organisasi menjadikan Kyai NU tampil di panggung-panggung tanpa kehilangan marwahnya. Banyak orang yang mendambakan oase spiritual dan bisa nyaman nongkrong bersama kyai NU sepertihalnya pribadi membumi Mbah Wahab Chasbullah di masa lalu.

Di kalangan santri banyak yang alami gagal berbaur dengan komunitas lain, tidak terbiasa dalam pergaulan di luar gerbang pesantren.

Pengurus harian tingkat PB, P, PC sampai diharapkan getol merancang program agak mereka tidak gagap gul dan jadi duta syiar ala Ahlu Sunah wal jama’ah diantara komunitas sekuler.

Program dirancang yang memberikan atmosfer baru generasi muda NU bukan bangga pada kuantitas tapi kapasitas. Empati-kepedulian minoritas termasuk teman-teman cacat fisik atau mental.

Kejelian merekrut kultural nahdiyin yang punya skill meski tidak kuat dalam nasab atau zuriah. Persoalan kemitraan dengan pihak luar yang terkadang mandek karena lemahnya eksekusi.

Pekerjaan menata NU ke depan masih panjang di bahas.

Khusus Muktamar ke-35, hormat dan rasa terima kasih tak terhingga pada tuan rumah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang khususnya KH. dr. Dr. Hasib Wahab Chasbullah.

Penerimaan yang luar biasa, fasilitas mumpuni, kordinasi rapi panitia lokal, sambutan santri dan warga yang begitu terbuka.

Semoga pahala dilimpahkan Allah yang maka kaya. Aamiin.

KORBAN SENDAL DI MUKTAMAR
Kisah dari Tambakberas
By: Isfandiari MD
Kisah lucu sekaligus sedikit memprihatinkan menimpa Dheyna Hasiholan, yang akrab disapa Mas Olan, pada 30 Agustus lalu di kawasan Tambakberas, Jombang.
Saat itu Mas Olan sedang asyik menyeruput kopi di sebuah warung sambil menikmati suasana sekitar. Tiba-tiba, terdengar gaduh dari arah jembatan yang tak jauh dari zona Makam KH. Wahab Chasbullah.
Rupanya, sejumlah massa tengah menyampaikan aspirasi. Mereka menggelar aksi karena merasa tidak puas dengan jalannya rapat.
“Saya santai saja. Meluapkan aspirasi kan biasa. Ada teriak-teriak sedikit dan massa mulai agresif,” kisah Mas Olan, yang dikenal sebagai senior PMII sekaligus kader Ansor.
Suasana kemudian mulai memanas. Massa semakin mengental dan salah seorang peserta aksi mendekati warung tempat Mas Olan ngopi.
Tanpa banyak berpikir, oknum tersebut mengambil sandal jepit yang sedang “parkir” di warung. Entah apa maksudnya, sandal itu kemudian dilempar ke arah kerumunan hingga akhirnya tercebur dan mengambang di sungai.
Mas Olan pun terkesiap.
“Waaa… itu sandal saya!”
Ia langsung berhadapan dengan sang pelempar. Argumentasi sengit pun terjadi.
“Sampeyan silakan demo, tapi kenapa sandal saya yang jadi korban?” protesnya.
Namun, karena situasi semakin ramai, sang pelempar sandal akhirnya menghilang di antara kerumunan massa.
“Saya melihat demonya masih skala kecil. Hanya beberapa botol air mineral yang dilempar dan satu buah sandal jepit milik saya,” keluh Mas Olan, antara kesal dan geli.
Yang membuatnya semakin jengkel, sandal itu ternyata hanya dilempar sebelah.
“Mending dilempar dua-duanya. Kalau hanya satu, tidak ada manfaatnya juga buat saya,” ujarnya sambil tertawa getir.
Apesnya Mas Olan ternyata belum berhenti.
Saat ada pembagian bantal gratis dari Forum Percepatan Transformasi Pesantren, ia kembali harus mengakui kekalahan. Kali ini bukan oleh massa pendemo, melainkan oleh ibu-ibu warga Tambakberas yang lebih sigap mendapatkan bantal gratis.
Satu sandal hilang, bantal pun tak kebagian.
Begitulah cerita Mas Olan di tengah hiruk-pikuk Muktamar NU ke-35.
Sabar, Mas Olan. Namanya juga ikut merasakan romantika Muktamar. 😄

 

Exit mobile version