Opini  

Romantika Muktamar NU ke 35

Oplus_131072

Seperti komentar Hadi Saputra dari kalangan akademisi sebagai, friksi tajamnya warna unjuk rasa, protes keras sampai pasangan fisik memicu mendalami tokoh-tokoh senior Nahdliyin.

Saksi mata yang ada di lokasi beri testimoni.

”Tidak begitu serius! Wajar luapkan aspirasi dan teriak-teriak. Memang ada aksi yang mendorong antara pendemo dan panitia keamanan juga banser, tapi berlangsung singkat dan akhirnya kondusif,” terang Dheyna Hasiholan, disapa Bang Olan aktivis PMII juga Ansor yang ada di lokasi.

Tapi dia cukup kecewa karena ketipan kera, sandalnya dilempar demonstran dan hanyut di sungai tepi tenda raksasa Sidang Pleno.

Suasananya memang epik. Matahari terik sekitar waktu salat ashar, angin membawa debu, cermin banser tak hanya sikut tapi juga ber yel-yel dan tari serempak kompak dan gagah.

”Kita satu komando bukan pasukan pembohong! Jaga keamanan areal Muktamar, jangan ada yang coba-coba ganggu dan buat tamu-tamu nyaman,” Arah H. Addin Jauharudin S.Pd.I., M.Pd panglima tertinggi Banser, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Baca Juga :  Redenominasi Rupiah: Kebijakan Ekonomi atau Strategi Stabilisasi Politik?

Tapi secara umum, suasana hangat dan riang. Lelaku mulia dilakoni warga, bagikan kopi gratis, makanan, tawarkan tempat singgah. Juga ikhlas sumbang apa yang mereka punya: beras, sayuran, domba bahkan sapi di panitia agar muktamar berjalan sukses.

”Mereka memberikannya demi cinta,” haru Saifulah Yusuf, ketua panitia Muktamar praktek silaturahmi luhur petuah muasis NU, KH. Hasyim Asy’ri: NU yang penuh cinta, kasih sayang, persahabatan serta keterhubungan jiwa dan raga.

Semua sesuai tema Muktamar: Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk kemaslahatan Bangsa.

Sidang melelahkan mulai siang-malam sampai pagi hari dijalani dengan sabar. Proses kelahiran ketua tanfidziah direvisi tak seperti menghindari ‘aura’ partai politik sekuler yang panas, gontok-gontokan, lobi dan politik uang sampai tingkat cabang.

Baca Juga :  Soksi Optimis MK Tak Lampaui Wewenangnya ' Prabowo-Gibran, Presiden-Wapres Terpilih

Di sidang Sidang Pleno III terjadi kesepakatan. Ada 73 persen muktamirin sepakat menghentikan skema pemilihan langsung (one man one vote), 401 suara nyaman dengan perubahan mekanisme dan hanya 150 suara yang ajeg cara lama.

Artinya, mandat diserahkan sepenuhnya kepada dewan AHWA.

Sejarah penting memperbaiki tata kelola kelembagaan mengeliminir gaduh. Ini sesuai tema Manjaga Marwah, terakomidir, lekat tradisi pesantren plus supremasi moral kiai sepuh. Tanfidziah tak bisa melenggang sendiri tapi manut-terbimbing rohani para Kyai Syuriah dalam sistem tata kelola organisasi.

Di banyak pikiran warga Nahdiyin tersimpan rasa terima kasih pada KH, Yahya Cholil Staquf, ketum periode yang disampaikan lewat atas banyak gagasan dibawah komandonya.

Soal peradaban memang masih memahami gagap arus bawah yang masih menghadapi situasi nyata, aktivitas sehari-hari yang berat termasuk beban ekonomi.

Baca Juga :  Politik dan Keterwakilan Perempuan di Ranah Publik.

Membentang di depan mata, mahalnya biaya pendidikan termasuk pesantren elite. Kualitas santri yang kadang dibahas saat bersaing di luaran. Kesehatan sosial sampai tata kelola organisasi.

Ada jurang lebar antara elit NU dan nahdiyin di bawah, soalah ada sekat tak terlihat tapi terasa. Jika tak segera sadar dan otokritik, jurang ini melebar dan NU kehilangan jadi dirinya di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *