Wiranta Wartawan Inspiratif PEJUANG YANG TERLUPAKAN

Ensiklopedia Sunda (Pustaka Jaya, Agustus 2000) menyebut Wiranta sebagai guru, wartawan sekaligus perintis kemerdekaan kelahiran Congeang Sumedang dan wafat di Bandung 1983. Ia tamat SD pada 1911, jadi guru tahun 1917 dan menempuh pendidikan sekolah guru era kolonial Kweekeling di sekolah kelas II Kalapanunggal Sukabumi, lulus ujian guru bantu. Warga tatar sunda ini terkenal suka membaca, sejak muda hobi menulis dan berlangganan-berlangganan surat kabar Kaoem Moeda Bandung. Ia lulus ujian Klein Ambtenaar tahun 1921 dan dapat diploma Boekhouding A tahun 1922 dan kerja jadi assistant Boekhouder di Karawang.

Karir kewartawanannya makin terlihat saat pindah ke Bandung 1925. Bersama Moh. Sanusi ia memimpin koran mingguan berbahasa Sunda. Koran provokatif-agresif gandrung mengkritik pemerintah kolonial. Artikelnya berjudul Tan Malaka Dibuang mendapat respon keras pemerintah Belanda. Ia dihukum setahun atas pelanggaran delik pers. Tahun setelahnya dikirim paksa berlayar dalam pembuangan gelombang pertama ke Digul  tahun 1927 sampai 1931. Bebas dan pulang ke Jawa Barat, tidak menyurutkan perjuangannya. Dia sangat aktif menulis opini di beberapa surat kabar saat itu. Ada Kiauw Po (Bandung), Sinar Pasoendan (Bandung), Matahari (Semarang), Keng Po (Jakarta) malahan diangkat sebagai redaktur majalah berbahasa Sunda, Bijaksana, sambil mendirikan romansbureau Mantili di Bandung. Di kisaran masa itulah Wiranta ada dalam puncak karir jurnalistiknya. Tak hanya menulis dalam Sunda, buku berbahasa Indonesianya diterima dengan baik pecintanya. Karya terkenal Wiranta antara lain Antara Hidup dan Mati, Buron dari Boven Digul dan Riwayat Hidup Ir.Soekarno. Karya ini bersaing dengan karya bahasa Sunda seperti, semisal Isukan Kuring Digantung (Besok saya Digantung) yang viral dan dapat sambutan pembaca sampai dicetak berulang kali. Karya ini dimuat dalam Mingguan Sunda sebagai cerita bersambung tahun 1965. Roman lainnya Hanjakal Jadi Awewe (Sayang Aku Perempuan) juga tergolong karya yang baik. Untuk itu ia mendapat penghargaan penulis cerita Pendek tahun 1953 oleh LBBS berjudul Pacul. Ada juga tulisan berjudul Neangan  (1963) yang dimuat di Majalah Sunda. Betul-betul penulis produktif. Karya-karya lainnya bertebaran di beberapa majalah.

Baca Juga :  Ahok Bos BUMN, Rizal Ramli: Utang Budi, Cukup Jadi Dubes

Tahun 1963, ia didaulat jadi redaktur majalah Langensari dengan tulisan bersambung terkenalnya Sripanggung, Menak Baheula yang keduanya dibukukan penerbit Kiwari Bandung. Sayang majalah Langensari mati, setelah itu ia menggantungkan hidupnya dari tulisan yang diterbitkan majalah Mangle, berupa fiksi, laporan perjalanan dalam bahasa Sunda.

Warga Jawa Barat tentu ada perhatian atas perjuangan beliau. Koran Pikiran Rakyat edisi 8 Agustus 1977 beritakan ulang tahun perkawinannya ke-50 dengan istri tercinta Nyi Cacih, anak digulis Sukantaatmaja. Moment itu diperingati di Bandung bareng anak cucu dan puluhan kawan-kawannya. Tahun 1982, Majalah Mangle adakan syukuran tepat usia Wiranta ke 80. Setahun kemudian tokoh cemerlang ini wafat. Ajib Rosidi menyunting karyanya Sripanggung (1991, Menak Baheula (1992) juga karya fiksinya seperti Bentang Rumahtangga (1992) dan Awewe Dulang Tinande (1997).

Baca Juga :  Selama Nataru 2019/2020,  Bandara Juanda Layani Penumpang Sebanyak 966 Ribu Orang

Begitulah, sosok luarbiasa pejuang inspiratif. Jaman Belanda dibuang ke Digul dan saat pendudukan Jepang ditangkap karena gabung dalam Pemuda Pejuang Kemerdekaan di Cianjur. Ia juga pengabdi dunia pendidikan lewat Sekolah Rakyat Bandung (1949).

Inspiratif!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *