“Gedung ini resmi kami segel karena sudah tidak berfungsi sebagai rumah aspirasi rakyat. Di saat anggaran elite naik setengah miliar dan rakyat dibiarkan kekeringan, wakil rakyat justru lari bersembunyi. Ketua DPRD terbukti pengecut karena menolak menemui kami hingga jam tujuh malam. Ini adalah bukti nyata bahwa Pemkot dan DPRD Kota Pasuruan benar-benar buta realita,” tegas Ubaidillah di lokasi penyegelan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PC PMII Pasuruan, Achmad Zulpan Abida, menuntut adanya langkah nyata, bukan sekadar janji politis. Massa aksi mendesak pembatalan total pencairan anggaran Rp 522 juta tersebut agar dialihkan (refocusing) untuk program-program krusial.












