Opini  

MBah Ma’shum – Muhammadun bin KH. Ahmad bin Abdul Karim (Lasem) ADIL, MODERAT, TOLERAN

Selaksa ilmu membentuk hati yang halus, kalimat pas menggambarkan pribadinya. Urusan finansial Kyai Mas’shum pejuang sejati. Ikhtiar nafkah dilakoni berdagang antarkota pakai sepeda onthel.

Rutenya, x-tra biasa!, Lasem-Jombang, kurang dari 165 km. Sambil dagang intens mengajar berdakwah, sowan juga ke pesantren-pesantren besar semisal Tebu Ireng, hadiri forum musyawarah bersama guru beliau KH. Hasyim Asy’ari pimpinan forum.

Sekedar info, usia Mbah Ma’shum lebih tua dari Mbah Hasyim, namun beliau menganggap KH. Hasyim Asy’ari lebih mumpuni di bidang keilmuan Hadits.

Baca Juga :  Gen Z Harus Keluar Dari Zona Aman dan Kembali Heroik Seperti Generasi Dahulu

Kisah mereka berdua menarik disimak. Pernah, Mbah Ma’shum bermimpi bertemu Rasulullah dengan pesan agar berhenti berdagang dan konsen mengajar ilmu. Laa khayra illa fi nasyr al-ilmi (Tiada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu).

Pesan pentingnya fokus mengajar umat, soal rejeki-kebutuhan Allah yang tanggung. Mimpi ini disampaikan pada KH. Hasyim Asy’ari dan dijawab, tak perlu ada tafsir lagi, jelas dan tegas.

Baca Juga :  Ziarah Ingatan: Meditasi Sinema Menjelang Muktamar NU 2026

Kisah spiritual inilah yang jadi bebuka fokus beliau di bidang pendidikan. Berdirilah pesantren Al-Hidayat Lasem pada tahun 1918 yang sebelumnya hanya langgar kecil tahun 1916.

Sejak itulah, jadwalnya superpadat dalam mengajar. Selain Al-Qur’an, santri-santri menyajikan kitab mu’tabarah: Fathul Qarib, Fathul Wahhab, Alfiyyah, Riyadlus Shalihin, Kifayatul Akhyar, al-Hikam, Ihya’ Ulumiddin, dan lainnya.

Sebuah keistimewaan, setiap mengaji kitab, beliau pasti akan mengkhatamkan kitab tersebut, dianalisa dari awal. Dilakukan secara istigamah dan mudawamah hingga wafatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *