Tapi itulah keberanian gagasan. Gus Yahya ingin NU tak terlampau larut dalam kejayaan muasis terdahulu tapi memikirkan masa depan NU yang akan diisi generasi santri ahlus sunah wal jama’ah yang bisa diandalkan.
Gerbong terdepan kini diamanatkan pada KH. Abdul Hakim Mahfudz, akrab disapa Gus Kikin. Di masa iddah sekarang ini beliau pastinya menimbang-nimbang apa yang perlu diteruskan dan program apa yang dinilainya tak relevan bagi perkembangan organisasi di tingkat PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU sampai tingkat ranting.
Kredibilitas beliau tak disangsikan lagi. Dari sisi silsilah keturunan, canggah dari jalur ibu, pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari.
Dari darahnya mengalir melalui Nyai Hj Khoiriyah Hasyim dan suaminya, KH Ma’shum Ali, pakar falak legendaris penyusun kitab Amtsilah Tashrifiyyah.
Sepeninggalan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah-2020) beliau melanjutkan kepemimpinan, pengasuh utama di Tebuireng dengan jaringan luas bahkan memiliki 15 cabang di seantero Nusantara.
Harapan kepadanya ada pada re-aktualisasi naskah Qanun Asasi NU, landasan berpikir Mbah Hasyim Asy’ari. Landasan ini menjadi konstitusi etis jamiyyah.
Nahdlatul Ulama abad kedua sangat memerlukan sanad keilmuan yang mumpuni ditopang kekuatan adab sebagai independensi jami’ah menyongsong masa depan. Nyata-nyata ini menjadi otonomi moral agar NU terlepas dari jebakan intervensi politik praktis.
Ini dibuktikannya sesaat setelah terpilih dengan menandatangani Kontrak Jam’iyyah dan Pakta Integritas di hadapan muktamirin.
