BATHARA KATONG, TOKOH ISLAM TANAH JAWA

PERANG YANG PENUH STRATEGI

Perjuangan Bathara Katong sangat berat. Dalam peperangan besar dengan pihak Ki Ageng Kutu, ia sampai di wilayah Wengker dan membuat pemukiman di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Di sana warganya mayoritas beragama Budha-Hindu dan kapitayan. Saat memasuki Ponorogo, ia berhadapan langsung dengan Ki Ageng Kutu. Dikisahkan, keduanya sama-sama kuat hingga perlu strategi lain untuk memenangkan perang.

Caranya mendekatinya adalah memperistri Niken Gandini putri Ki Ageng Kutu. Selain persoalan asmara, ada tujuan khusus yakni mendapatkan pusaka Koro Welang, pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Dalam kisahnya, pertempuran berlanjut dan dimenangkan Bathara Katong. Ki Ageng lantas menghilang atau moksa pada Jumat Wage di gunung Bacin, Wringinanom Sambit Ponorogo. Peristiwa ini bisa membawa peperangan baru. Pendukungnya masih banyak dan kuat inilah yang harus diantisipasi. Di sini kecerdasannya terlihat, ia mengumpulkan seluruh rakyat Ponorogo dan mengatakan, Ki Ageng Kutu yang moksa akan terlahir kembali. Strategi ini dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu. Ia sendiri mengklaim dirinya Batoro atau manusia setengah dewa dan membuat patuh rakyat Ponorogo yang masih percaya pada dewa-dewa.

Baca Juga :  Dapat Dukungan Pemkot, Pengrajin Tenun Ikat Kediri Mengaku Permintaan Makin Tinggi

BERDIRINYA PONOROGO

Penuh perjuangan berat dalam berdirinya Ponorogo.. Hutan belantara dibabat termasuk gangguan berbagai mahluk halus. Untungnya ia disokong orang-orang sakti, para warok dan para prajurit Wengker. Setelah rapi, bangunan-bangunan didirikan, istana kadipaten berdiri, penduduk berdatangan. Batara Katong kemudian memboyong permaisurinya, Niken Gandhini ke istana kadipaten, sedang adiknya, Suromenggolo tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *