Opini  

MBah Ma’shum – Muhammadun bin KH. Ahmad bin Abdul Karim (Lasem) ADIL, MODERAT, TOLERAN

 

Anggota DPR RI - PDI P
Anggota DPR RI – PDI P

Oleh HN Falah Amru

Lasem dijuluki zona tanpa sumbu, tak ada sumbu panjang – pendek, masyarakat damai tidak mudah tersulut selalu menjaga keutuhan dan harmoni. Suasana seperti itu tidak terbentuk begitu saja. Ada proses panjang dan binaan intens ulama-ulama setempat. Tak hanya itu, mereka juga belajar dari sejarah saat kakek nenek mereka berjuang bersama, bersatu meski ada dalam perbedaan suku juga keyakinan. Perang Kuning di Lasem telah membuktikan hal itu, warga Arab, Jawa dan Cina bersatu berkorban jiwa raga.

Baca Juga :  Gen Z dan Tren Politik Masa Kini

Tokoh menonjolnya Mbah Ma’shum, kelahiran 1870, bergaris nasab tokoh Minangkabau, Sultan Mahmud Al-Minangkabawi, tersambung ke Sunan Giri sampai Rasulullah. Lewat gemblengan bapaknya, KH. Ahmad bin Abdul Karim, beliau dibentuk jadi insan pecinta ilmu. Bayangkan, sempat nyantri ke 50 ulama besar, belajar singkat langsung terserap berkah kecerdasannya.

Sebut saja guru-gurunya, Kyai Nawawi Jepara, Kyai Ridhwan Semarang, Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Abdussalam Kajen, Kyai Idris Jamsaren Solo, Kyai Sholeh Umar Semarang terkenal disebut Kyai Soleh Darat, Kyai Kholil Bangkalan dan masih banyak lagi.

Baca Juga :  Ekonomi Boleh Tumbuh, Alam Jangan Runtuh

Baru bicara Kyai Nusantara, belum saat ke Mekkah, belajar pada Syekh Mahfudz al-Turmusi dan Syekh Dimyati al-Turmusi. Bicara nasab keilmuan, sambungannya ke Sayyid Ahmad Zaini Dahlan—syaikhu masyayikh ‘godfathernya para guru’.

Merunut salah satu gurunya, KH. Kholil Bangkalan, Mbah Ma’shum terhubung dengan Syekh Nawawi al-Bantani murid Andalan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Makkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *