Dua paham yang membedakan secara mendasar inilah yang sering dipertertukarkan secara keliru, sehingga menimbulkan salah paham. Sikapnya yang membuang marxisme yang filsafat, dan memakai marxisme sebagai pisau analisa masalah-masalah sosial, membuktikan ia seorang revisionis, seperti Karl Marx sendiri berulangkali merevisi pendapatnya sesuai dengan kondisi obyektif yang terjadi.
Sebagai muslim, jelas Bung Karno merupakan pembaharu di negeri ini. Ia ingin menangkap api Islam dan bukan abunya. Orang yang melihat kapitalisme sebagai ibu kandung kolonialisme adalah musuh utama, baik Islam maupun Marxisme. Karena mertiennarde, menurut istilah marxis, tak lain tak bukan riba menurut Islam.
Bung Karno bukanlah orang pertama yang melihat hubungan sosialisme di satu pihak dan Islam di lain pihak, karena H.O.S Tjokroaminoto sudah mengeluarkan tulisan “Islam dan Sosialisme” di tahun 1924. Inti tulisan itu menganggap perlunya umat memerangi paham kapitalisme atau “paham penarik kekayaan”, menurut istilah Tjokroaminoto, serta berikhtiar sekuat-kuatnya untuk menggalang persatuan kaum buruh dan petani.
Yang sudah pasti, Bung Karno percaya diri dan yakin betul akan kebesaran Indonesia. Ketika tiba di Kairo menjelang KTT Non Blok II, urutan pembicara untuk pembukaan, ia dijadwalkan sebagai pembicara nomor tujuh. Ia tidak mau ikut urutan itu. Ia hanya mau menjadi pembicara pertama atau mengancam pulang ke Jakarta.
Menlu Subandrio kelabakan, menggeser pembicara-pembicara lain yang terdiri atas kepala-kepala pemerintahan itu. Akhirnya, Presiden Indonesia itu menjadi pembicara utama dengan judul pidatonya “The Era of Confrontation”, yang mencanangkan kebangkitan “Dunia Ketiga” sebagai kekuatan yang mesti diperhitungkan oleh para superkuat, dengan Indonesia sebagai pemain intinya. Ia megalomania. Ia congkak menghadapi dunia luar . Tapi rasanya, itu lebih baik daripada merunduk.
